Bagaimana Sukses Sampai menghasilkan Dollar ! Akan Saya Bocorkan Untuk Anda Sekarang !

ADSENSE link unit (728 X 15px) SPACE

Bagaimana Sukses Mendapatkan Penghasilan Tambahan Sebagai Affiliate Marketer Dari Clickbank Dengan Benar Klik Disini
Tampilkan postingan dengan label Lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2011

Rambu hilang selama mudik Lebaran

Ilustrasi (ist)
Klaten, Jawa Tengah (ANTARA News) - Ternyata ada yang mengambil kesempatan di tengah riuh-rendah mudik Lebaran. Mereka adalah pencuri rambu-rambu lalu-lintas --kebanyakan tanda penunjuk jalan-- di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
"Sementara laporan masuk baru empat rambu yang berada di sepanjang jalur mudik di Klaten, tetapi untuk titik mana saja kami juga belum menerima laporan detilnya," kata Kepala Dinas Perhubungan Klaten, Jaka Sawaldi, di Klaten, Rabu.
Karena mereka baru dapat laporan, mereka belum bisa menghitung kerugian yang terjadi.
Dikatakannya, ada sekitar 170 rambu di Klaten, baik di jalur utama maupun alternatif guna memudahkan pemudik melakukan perjalanannya.
Selain itu, ada lagi 50 rambu dipasang di titik-titik rawan penumpukan kendaraan pada saat arus lalu lintas mengalami kepadatan selama arus mudik-balik, namun ternyata beberapa di antaranya justru hilang.
Sementara itu berdasar pantauan, beberapa rambu yang hilang justru banyak dialami di jalur alternatif, sehingga dapat menyesatkan para pemudik yang melintas di sana.
Salah satunya di wilayah Kecamatan Manisrenggo yang menjadi penghubung antara Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta dengan Klaten, yang tampak dari rambu penunjuk jalan yang hanya tersisa tiangnya.
Jaka mengakui, permasalahan perusakan dan hilangnya rambu di wilayah lereng Merapi itu menjadi persoalan yang sudah dialami sejak 2010, sehingga saat arus Lebaran berlangsung, pemudik yang melintas di sana dibuat kebingungan akibat tidak adanya penunjuk jalan.
Atas kondisi ini, Dishub akan melakukan evaluasi dan melakukan langkah lanjutan terkait hal ini agar saat arus Lebaran tahun mendatang kejadian serupa tak lagi terjadi. (ANT-279) Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © 2011
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com
Polisi bogor tangkap penghipnotis nasabah bankPolisi di bagian Reserse Kriminal Polres Bogor berhasil menangkap komplotan pelaku hipnotis yang beraksi di wilayah ...
Pemkab Mimika antisipasi rencana mogok karyawan FreeportPemerintah Kabupaten Mimika, Papua, terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi rencana mogok ...
Pendidikan di perbatasan juga akan dilakukan TNIJalinan kerja sama antara Kementerian Pendidikan Nasional dan Markas Besar TNI terjadi. Wujudnya adalah pelibatan ...
Ciptakan kerja Part time di rumahkisah sukses clickbank
Read More ...

Sabtu, 10 September 2011

Silaturahmi Lebaran bertemankan palang pintu kereta api

Pengendara sepeda berhenti saat sebuah kereta api melintas di perlintasan kereta api yang tanpa palang pintu, di Jalan Purwosari Semarang, Jateng, Selasa (23/8). Penjaga pintu-pintu perlintasan tetap bertugas walau dalam suasana Lebaran. (ANTARA/R. Rekotomo)

... Bayangkan Mas, ketemu istri cuma sehari doang dalam tiga bulan sekali... Sedih juga sih, tapi mau gimana lagi, sudah kewajiban...
Jakarta (ANTARA News) - Seorang pria bertubuh kekar, berdiri tegap menatap tajam satu bajai yang memaksa maju melintas, berulang kali ia meniupkan peluit sambil menghalaukan tangan. Tujuannya jelas, agar bajaj itu tidak merangsek memaksa maju ke balik palang kayu yang sudah terpasang.

"Awas, awas kereta lewat…!!," Widodo berteriak. Dia seorang petugas penjaga pintu perlintasan kereta api Stasiun Pasar Senen; harus sering berteriak mencegah pengemudi mobil, motor, bajaj, dan manusia yang tidak mau peduli atas resiko melanggar palang itu. Bajaj bengal itu contohnya, tidak mau mengindahkan rambu lalu-lintas penting itu.

Tidak berapa lama bajai itu melintas, satu rangkaian kereta api commuterline jurusan Jakarta Kota-Bekasi melintas cepat sambil membunyikan pluitnya yang melengking tinggi. Rangkaian kereta api di Indonesia, biasanya terdiri dari delapan atau 12 gerbong, dengan kecepatan jelajah rata-rata 60 hingga 90 kilometer per jam.

Untuk tahu resiko jika sampai tertabrak lokomotif, gampang saja. Bayangkan saja ditabrak besi padat seberat 40 ton yang melaju dalam kecepatan 70 kilometer per jam di atas dua rel besi. Rel selebar 110 sentimeter itu terpasang mantap dengan selisih ketinggian sampai setengah paha orang dewasa; artinya kalau sampai panik dan ingin lari ke samping, masih ada resiko tersangkut.

Menurut perhitungan matematis yang sudah terbukti di lapangan, untuk bisa menghentikan satu rangkaian penuh kereta api dari kecepatan 70 kilometer per jam sampai benar-benar berhenti, bisa diperlukan jarak pengereman hingga ratusan meter. Jadi, bukan langsung berhenti begitu rem ditarik!

Bukan hal jarang sebetulnya mendengar atau mengetahui ada kecelakaan mobil atau bis atau manusia tertabrak kereta. Kecuali orang itu sakti mandraguna tidak mempan dilindas kapal laut, bisa dipastikan mereka mati seketika dalam keadaan hancur-hancuran.

Sudah begitupun, masih saja banyak orang tidak mau tahu bahwa dia bisa mati hanya karena tidak sabar menunggu kereta api lewat.

Betapa sia-sia sekali pilihan seperti itu.

"Ya gini Mas. Susah! Orang Indonesia, walaupun alarm sudah berbunyi dan pintu palang ditutup, tetap saja maksa masuk. Nanti kalau ada apa-apa siapa juga yang kena," kata pria usia 32 tahun itu.

Widodo salah satu dari ratusan petugas penjaga pintu perlintasan kereta api dalam jajaran PT Kereta Api Indonesia. Laiknya pelayan publik, dia terkena aturan piket kerja, tidak peduli bahwa itu hari Lebaran dan dia seorang muslim yang juga ingin bershalat Ied plus mudik ke kampung halaman dengan segala suka-citanya.

"Sedih juga sih, tapi mau gimana lagi, sudah kewajiban," kata pria dari Magelang, Jawa Tengah, itu. Pos jaganya seperti "dikepung" kendaraan yang menyemburkan asap ditambah kebisingan dan debu. Masih bagus dia tidak sakit-sakitan bekerja di lingkungan seperti itu.

Di pos tugasnya itu, dia hanya sendirian. Tidak ada "ornamen" atau penganan khas Lebaran, bahkan sekedar semangkuk opor ayam atau ketupat sayur. Dia tidak bertutur, di mana dia menunaikan shalat Ied kali ini.

Kesedihan Widodo bertambah lengkap di bulan penuh fitri ini karena ia hidup sebatang kara di Jakarta, lantaran istri dan sanak keluarga tinggal di Magelang. Dia pernah membujuk istrinya untuk pindah ke Jakarta tapi sayang istrinya tidak mau pergi dari kampung halamannya karena memiliki usaha catering makanan.

Untuk melepas rindu dengan istri tercintanya, dia akan meminta ijin cuti September nanti. PT KAI, melalui atasannya, hanya memberikan ijin cuti paling banyak selama tiga hari, itu pun hanya selama lebaran. Jika hari-hari biasa, dia hanya mendapatkan ijin cuti sehari dalam tiga bulan sekali.

"Bayangkan Mas, ketemu istri cuma sehari doang dalam tiga bulan sekali," katanya.

Untuk menghilangkan rasa penatnya itu, dia lebih memilih bermain ke dalam stasiun dan bersenda gurau dengan teman-temanya di pos penjagaan.

"Saya punya hoby bersepeda, tapi itu dulu di Jawa," katanya.

Tiba-tiba, Widodo menghentikan pembicaraan dengan jari telunjuk menempel ke mulut sebagai tanda untuk diam sejenak. Telepon pos penjaga berdering dan memberitahu ada kereta api yang akan masuk di jalur tiga.

Dia lantas berdiri dan memutar sebuah tombol merah untuk menyalakan alarm dan menutup palang pintu, lantas dia menelepon pengawas pusat. "Pintu tiga aman," katanya. Saat-saat seperti itu adalah saat menentukan bagi mereka, salah mendengar atau memberi keterangan sebagai respons, bisa berbahaya sekali.

Tak heran, bagi penjaga pintu KA karena mereka membutuhkan konsentrasi dan pendengaran yang tajam, mengingat suara perintah di telepon itu tidak begitu jelas dan mereka harus mendengar dengan seksama setiap pesan yang masuk, walaupun pekerjaannya terlihat sepele hanya menjaga pintu KA.

Penjaga palang pintu di KA Senen terbagi menjadi empat gilir jam kerja, setiap gilir kerja terdiri dari enam jam sehingga ada empat orang petugas yang menjaganya. Dalam sehari, mereka harus menjaga 570 KA api yang lewat di pintu perlintasan Stasiun Pasar Senen.

"Ada 570 kereta yang lewat tiap hari," katanya yang telah mengabdi sebagai penjaga palang pintu KA sejak sembilan tahun yang lalu. Ternyata banyak sekali rangkaian kereta yang lewat di sana.

Widodo punya kenangan manis sebagai petugas penjaga palang pintu KA. Selain boleh naik kereta gratis, dia bisa ketemu dengan pejabat-pejabat pemerintah asing seperti duta besar China yang pernah menginspeksi sistem perkeretaapian Indonesia.

Dia pun sangat mengharapkan suatu saat nanti Presiden Soesilo Yudhoyono mengunjungi pos penjagaannya. "Pengennya sih, Pak SBY yang datang," katanya, yang tiga tahun sebelumnya menjaga palang pintu Setasiun Jatinegara.

Namun tidak enaknya, selain waktu cuti yang sangat singkat, banyak kendaraan seperti Metro Mini dan Bajai yang bandel masuk perlintasan KA bahkan ada pintu perlintasan KA yang terbuat dari besi rusak karena ditabrak Metro Mini. Hingga detik ini, pintu perlintasan itu belum diganti malah ditambal bambu panjang.

"Pernah dulu ada bajai yang nyolong masuk langsung diseret kereta api. Jika mereka para pengemudi masih bandel, ya itu salahnya," katanya yang ingin menjadi petani ketika pensiun nanti.

Yang terpenting, kata Widodo, seorang penjaga palang pintu KA harus menyalakan alarm, lalu menutup palang pintu dan memperingatkan pengemudi kendaraan dengan peluit.

Dia mengharapkan PT. KAI meremajakan teknologi alat penutup palang pintu KA dengan alat yang otomatis seperti alat palang pintu KA di negara maju.

Dia melihat penanganan pemudik tahun ini sangat bagus dibanding tahun kemarin. Jika tahun kemarin banyak pemudik yang berjubel naik kereta api lantaran tidak mendapatkan tempat duduk, maka penanganan mudik tahun ini, PT KAI lebih ketat dan hanya yang memiliki tiket yang bisa naik KA.

Mungkin, Widodo salah satu kisah yang terlupakan dari sekian banyak petugas pelayanan publik di negeri ini yang harus meninggalkan keluarga tercinta mereka untuk bertugas. Tugas merekapun bukanlah tugas mudah karena lengah sedikit nyawa orang taruhannya. (*) Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Silaturahmi Lebaran bertemankan palang pintu kereta apiSeorang pria bertubuh kekar, berdiri tegap menatap tajam satu bajai yang memaksa maju melintas, berulang kali ia ...

Pidato Presiden Saat Peringatan Hari Lahir Pancasila Berikut adalah pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di ...


Ciptakan kerja Part time di rumahkisah sukses clickbank
Read More ...

Jumat, 09 September 2011

Warga Kupang ramai-ramai berwisata Lebaran

Dua anak bermain-main di tepi Pantai Lasiana, Kota Kupang, NTT. Kota Kupang yang dikelilingi Teluk Kupang menjadikan warganya tidak usah pergi jauh-jauh untuk berwisata laut, sebagaimana halnya pada liburan Lebaran kali ini. (FOTO ANTARA News/Laurentius Molan)

... sudah bersilaturahmi dengan semua keluarga, kerabat dan rekan kerja kemarin, karenanya hari ini kita isi dengan berwisata di tempat pemandian ini...
Kupang, NTT (ANTARA News) - Lokasi pemandian air tawar di Desa Baumata Kecamatan Taibenu Kabupaten Kupang, sejak pukul 11.00 WITA mulai dipadati pengunjung untuk berwisata mengisi kesempatan liburan panjang di Idul Fitri 1432 Hijriah ini.

Sebagaimana yang disaksikan di tempat pemandian Bamuata yang berada sekitar 17 km arah selatan Kota Kupang itu, para pengunjung yang datang begitu menikmati suasana di lokasi pemandian tersebut, tanpa peduli dengan sengatan panas matahari yang terpancar.

Salah seorang pengunjung, Iskandar Hamzah (43) yang ditemui di lokasi pemandian itu mengaku, datang ke lokasi itu untuk bersenang-senang bersama keluarganya, sambil melepas segala kepenatan dan rutinitas kesehariainya, termasuk selama menjalankan ibadah puasa selama sebulan yang lalu.

Menurut karyawan salah satu perusahaan swasta di Kota Kupang itu, dia dan keluarganya baru bisa datang untuk berwisata di lokasi itu, karena harus melakukan silaturahmi dengan sejumlah keluarga, kerabat dan rekan kerja pada hari peratama lebaran Rabu kemarin (31/8).

"Kita sudah bersilaturahmi dengan semua keluarga, kerabat dan rekan kerja kemarin, karenanya hari ini kita isi dengan berwisata di tempat pemandian ini," kata Iskandar.

Pengunjung lainnya, Fahtur (10) seorang anak yang ikut bersama keluarganya berwisata ke lokasi tersebut mengaku menikmati segarnya pemandian yang ada di lokasi itu.

Menurut siswa sekolah dasar salah satu sekolah swasta di Kota Kupang itu, bermain sambil mandi di pemandian tersebut sangat menyenangkan.

"Saya senang dan menikmati suasana di sini bermain sambil mandi, sangat menyenangkan," kata Fahtur.

Penjaga pintu masuk lokasi pemandian Ny Yovita, mengaku lokasi pemandian Baumata, sudah tidak lagi menjadi favorit bagi warga Kota Kupang dan sekitarnya untuk menjadi tempat tujuan wisata.

Menurut dia, kondisi itu dibuktikan dengan jumlah pengunjung yang datang untuk menikmati tempat pemandian itu yang semakin hari semakin menurun, kendati pada saat liburan.

Dia mengatakan, dalam liburan dan cuti bersama Idul Fitri ini pun, pengunjung tidak terlampau banyak, tidak sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

"Jumlah pengunjung hari ini lumayan, tidak sama seperti hari kemarin saat Idul Fitri hari pertama," kata Yovita.

Hal serupa juga disaksikan di salah satu obyek wisata pantai Lasiana yang berlokasi di Kelurahan Lasiana Kota Kupang.

Pantai yang berjarak sekitar 13 Km arah timur Kota Kupang itu pun, jadi pilihan warga Kota Kupang dan sekitarnya untuk berwisata mengisi liburan dan cuti bersama Idul Fitri 1432 Hijriah.

"Hari pertama liburan Idul Fitri kemarin sepih pengunjung. Hari ini mulai meningkat sedikit demi sedikit karena para pengunjung terus berdatangan," kata Pak Ndoen, petugas tagih dan penjual karcis masuk di lokasi wisata milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu.

Menurut dia, kurangnya pengujung di hari pertama Lebaran, mungkin karena warga masih harus merayakan Lebaran dengan melaksanakan silaturahmi dengan keluarga, kerabat dan rekan kerja.

"Hal itulah yang membuat kunjungan ke lokasi itu pada hari pertama lebaran sangat sedikit," kata Pak Ndoen.

Dia berprediksi, tingkat kunjungan di lokasi tersebut hari ini akan tinggi jika dibanding dengan hari kemarin.

"Saya yakin hari ini tingkat kunjungannya banyak," kata Pak Ndoen sambil menunjukkan buku karcis yang dipegangnya yang mulai menipis.

Sebagaimana disaksikan, para pengujung mulai menempati sejumlah lokasi yang dinilai cukup nyaman dari sengatan matahari dan debu dengan membentuk kelompok masing-masing sambil menikmati sepoi angin laut dan bekal yang sudah disiapkan sebelumnya.

Salah seorang pengunjung Tutut Awaluddin mengaku, ke Lasiana hanya untuk mengisi waktu liburan panjang, sambil mencari suasan baru.

"Kemarin kita sudah silaturahmi Lebaran, karena itu sekarang kita butuh suasana baru dengan berekreasi untuk mengisi liburan panjang ini," kata Awal Ludin.

Menurut dia, Lasiana bukan merupakan favorit baginya untuk berwisata, namun karena tidak ada lagi pilihan lokasi wisata lain yang disediakan Pemerintah Kota Kupang bagi warganya.

Kendati demikian, pegawai salah satu bank swasta di Kota Kupang itu mengaku menikmati suasana yang ada di lokasi itu.

"Saya menikmati suasana ini, namun perlu ada perhatian pemerintah untuk menata lagi lokasi ini menjadi lebih baik," kata Awaluddin. (*) Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Biofarma produksi vaksin halal dan berkualitas Biofarma berkomitmen menjadi satu-satunya produsen vaksin halal dan berkualitas bagi masyarakat Indonesia untuk ...

DPR tak lagi persoalan pemberian gelar kepada Raja Arab  Parlemen diharapkan tidak lagi mempersoalkan pemberian gelar Honoris Causa oleh Rektor Universitas Indonesia ...

Serdadu Ceko sedang Militer Ceko menyusut hingga tinggal seperempatnya sejak Praha meninggalkan Komunisme dua dasawarsa lalu. Kini, mereka ...


Ciptakan kerja Part time di rumahkisah sukses clickbank
Read More ...

Selasa, 06 September 2011

Gubernur: Ramadhan dan Lebaran beri kesejukan emosional

Sejumlah umat Islam di Yogyakarta melaksanakan Sholat Tarawih di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Jumat (21/8). (FOTO ANTARA/Agung Supriyanto/09)

Kupang (ANTARA News) - Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya mengharapkan momentum Ramadhan dan Idul Fitri 1432 Hijriah memberi kesejukan emosional untuk saling memaafkan, serta mampu menjauhkan segala pertentangan dan perselisihan.

"Saya harap dua momentum spiritual itu dapat menjadi daya dorong untuk tetap sehati sesuara membangun NTT baru demi mewujudkan masyarakat yang berkualitas, adil, demokratis dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," kata Frans Lebu Raya dalam pidato menutup masa puasa dan menyambut Idul Fitri 1432 Hijriah bagi masyarakat NTT di Kupang, Senin malam.

Gubernur Frans Lebu Raya meyakini bahwa Ramadhan telah dilaksanakan dengan segenap hati dan didorong oleh iman yang kuat, bukan sesuatu tanpa makna dan bukan satu rutinitas belaka, melainkan memiliki nilai spiritual yang amat kaya.

Menyadari dalamnya makna puasa dan Idul Fitri, Frans Lebu Raya meminta umat muslim di NTT untuk senantiasa mewarnai nilai kebajikan dan spiritual yang terkandung didalamnya dalam kehidupan nyata setiap hari.

"Nilai-nilai kebajikan dan spiritual selama puasa tidak saja diungkapkan selama bulan suci Ramadhan, tetapi dalam seluruh ziarah hidup tanpa dibatasi ruang dan waktu," ujarnya.

Ia menambahkan, semua kebajikan dan nilai spiritual hendaknya dihayati secara sungguh-sungguh dan diamalkan dalam kehidupan setiap hari di tengah-tengah masyarakat yang majemuk.

Sebagai orang nomor satu di NTT, Frans meminta masyarakat di provinsi itu terus mengendalikan hawa nafsu, menambah kepekaan dan solidaritas sosial kepada orang-orang yang tidak berpunya, menderita dan tidak pernah merasa kenyang dengan memberikan bantuan rezeki.

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada masyarakat NTT yang terus mampu menciptakan suasana aman dan tertib serta damai selama bulan suci Ramadhan sehingga umat Muslim dapat menjalankan ibadah puasa dengan hikmat dan khusyuk.

Frans Lebu Raya yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan NTT ini berharap segala bentuk disiplin, pengendalian diri dan kepekaan sosial serta semua pengalaman rohani yang diterima selama bulan Ramadhan dapat membentuk pribadi-pribadi yang taat dan patut diteladani. (ANT-296/Z002/K004) Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2011


Ciptakan kerja Part time di rumahkisah sukses clickbank
Read More ...
Diberdayakan oleh Blogger.