Bagaimana Sukses Sampai menghasilkan Dollar ! Akan Saya Bocorkan Untuk Anda Sekarang !

ADSENSE link unit (728 X 15px) SPACE

Bagaimana Sukses Mendapatkan Penghasilan Tambahan Sebagai Affiliate Marketer Dari Clickbank Dengan Benar Klik Disini
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 September 2011

Pemuda dan masa depan Islam

Jakarta (ANTARA News) - Kalau nurani masih bersih, pasti umat Islam akan mengelus dada menyaksikan babak demi babak kehidupan yang kini berkembang, karena saat ini nyaris seluruh sektor kegiatan kaum Muslimin terpuruk.
Dalam segi akidah atau keyakinan pokok banyak sekali umat Islam yang menganut keyakinan syirik, menyekutukan Allah dalam hal ibadah. Perdukunan merajalela, penyembahan terhadap ahli kubur masih dilakukan, pengagungan yang berlebihan terhadap seorang tokoh masih banyak dijumpai. Perilaku ini menurut syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab dalam kitab tauhid, termasuk kategori syirik.
Dalam aspek politik, yang tampil hanyalah permainan yang keruh penuh rekayasa dan retorika semu. Dalam bidang ekonomi sistem keuangan riba, yang diharamkan Allah masih mendominasi kehidupan. Akibatnya, makin lebar jurang antara si kaya dan si miskin. Dalam lapangan sosial budaya, kita disuguhi kebobrokan moral generasi muda masa kini. Setiap hari kita menyaksikan beragam kemaksiatan seperti: kemusyrikan, perzinaan, pembunuhan, kasus narkoba dan sebagainya.
Kita sangat prihatin dan sangat menyesal dengan hidup jahili (yang diharamkan) itu yang melingkupi sebagian besar umat Islam. Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir Rasulullah SAW.
Beliau bersabda: "Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta". Ada orang yang bertanya, "Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?" Jawab Beliau, "Siapa lagi kalau bukan mereka?" (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah).
Artinya: "Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka". Kami bertanya, "Ya Rasulullah, orang Yahudi dan Nasrani?" Jawab Nabi, "Siapa lagi?" (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa`id Al-Khudri).
Hadis tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya karena jiwa mereka telah terisi oleh jenis kepribadian lain. Mereka kehilangan gaya hidup hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar.
Menyimak keadaan yang kita sebutkan tadi, kita jadi ingat firman Allah surat Ar- Ruum ayat 41: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah perbuatan tangan nafsu manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".
Rasa-rasanya, firman Allah ini benar-benar cocok dengan yang kita alami sekarang. Orang tua sering tidak paham dengan perubahan yang terjadi pada remaja sehingga tidak jarang terjadi konflik di antara keduanya. Karena merasa tidak dimengerti remaja seringkali memperlihatkan tindakan agresif yang dapat mengarah pada perilaku berisiko tinggi.
Dalam surat an-Nisa ayat sembilan Allah SWT berfirman yang maknanya: Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Ayat ini khithobnya (sasarannya) adalah kepada generasi yang lebih tua. Hendaklah generasi tua memikirkan nasib generasi muda, keberlangsungan masa depan mereka juga masa depan agama mereka. Bagi para kawula muda dan para remaja ayat ini juga menjadi sandaran dan pijakan kuat bahwa Al-Qur?an memandang masa muda itu tidak ringan. Masa muda dan remaja itu penuh dengan tantangan.
Kata dhi`aafa (lemah) dalam ayat di atas tentu berdimensi luas. Mencakup berbagai aspek kehidupan, khususnya lemah dalam hal meneruskan perjuangan generasi tua.
Dimensi pertama lemah akidahnya.
Ini tentu yang paling utama, yaitu hendaklah generasi tua mawas diri seandainya meninggalkan generasi muda yang lemah akidahnya. Kita umat Islam jangan sampai meninggalkan generasi yang goyah imannya. Karena kalau goyah pada dimensi pertama ini, maka hidup ini tidak ada artinya menurut pandangan agama. Karena diutusnya para Nabi atau Rasul itu adalah untuk membentengi akidah umatnya. Pada Rasul itu hampir tidak ada yang menonjolkan ilmu pengetahuan, meskipun mereka ahli ilmu pengetahuan. Nabi Dawud adalah orang yang ahli dalam bidang konstruksi baja (besi), tetapi dia menonjolkan dakwah ilahiyahnya. Pendekatan utama dakwahnya adalah lewat pondasi iman dan akidah, baru selanjutnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dimensi kedua adalah lemah dalam mental dan fisiknya.
Jangan sampai generasi muda kita punya fisik yang lemah, rentan terkena penyakit. Maka ini adalah tanggung jawab generasi tua ketika mereka dalam masa pertumbuhan untuk menyiapkan generasi muda yang sehat fisiknya, sehat ekonominya dan juga sehat secara pendidikan.
Tantangan pemuda Islam saat ini yang terberat adalah tantangan secara kultural. Karena perkembangan Iptek saat ini telah membuat pemuda kita mudah goyah. Iptek membuat kemajuan luar biasa keseluruhan dimensi kehidupan, dimensi sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya. Perkembangan Iptek secara tidak langsung membawa tantangan kepada pemuda kita. Dari situasi ini seringkali yang muncul krisis identitas. Terjadi kelemahan kultural karena mereka tidak mau menunjukkan identitas sebagai seorang muslim dan bahkan mereka merasa malu dan enggan untuk menampakkan identitas sebagai generasi muslim. Ini yang harus kita waspadai sebagai orang tua.
Faktor yang menjadi pemicu krisis identitas kultural adalah lemahnya pemahaman akan agama Islam. Anak-anak kita seringkali hanya terfokus pada studi di sekolah saja dan melupakan tugas utamanya sebagai seorang muslim yaitu mengaji. Menuntut ilmu bukan hanya sekedar di bangku sekolah formal. Mengaji, mengikuti majelis taklim atau sekedar menyempatkan beberapa menit untuk mendengarkan dakwah adalah salah satu cara kita dalam dalam memahami agama.
Dimensi yang ketiga adalah lemahnya skill para pemuda muslim.
Keterbatasan atau ketidakmampuan dalam skill membuat banyak pemuda Islam goyah dalam hidupnya. Kalau sudah goyah, ini akan membahayakan mental pemuda kita. Dalam situasi yang sudah mengglobal dan sangat kompleks seperti sekarang, akan sangat rentan bagi pemuda terseret dalam kerapuhan iman. Dan yang lebih penting saat ini adalah bagaimana kita turut membantu mengembangkan skill dan menumbuhkan jiwa entrepreneur dalam diri setiap pemuda muslim. Bukankah Rasulullah sendiri adalah suri teladan yang nyata bagi umat Muslim untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship dan leadership?
Dampak dari kelemahan iman dan mental adalah:
Penggunaan narkoba.
Remaja yang menggunakan narkoba bukan berarti memiliki moral yang lemah. Banyaknya zat candu yang terdapat pada narkoba membuat remaja sulit melepaskan diri dari jerat narkoba jika tidak dibantu orang-orang sekelilingnya. Zat kokain dan methamphetamine yang terdapat dalam narkoba akan memunculkan energi dan semangat dalam waktu cepat. Sedangkan heroin, benzodiazepines dan oxycontin membuat perasaan tenang dan rileks dalam otak. Ketika otak sudah tidak menerima lagi asupan zat-zat tersebut, maka akan timbul rasa sakit dan itulah yang membuat seseorang kecanduan.
Mengonsumsi alkohol.
Alkohol merupakan substansi utama yang paling banyak digunakan remaja dan sering berhubungan dengan kejahatan di kalangan remaja. Menurut Clinical and Experimental Research, remaja yang mengonsumsi alkohol, daya ingatnya akan berkurang hingga 10 persen. Substance Abuse and Mental Health Services Administration juga mengatakan bahwa 31 persen remaja yang minum alkohol mengaku stres dan memiliki Attention-Deficit Disorder (ADD) karena jarang diperhatikan oleh orang tua.
Pakaian yang menonjolkan aurat.
Kita boleh bersenang hati melihat berbagai mode busana Muslimah mulai bersaing dengan mode busana jahiliyah. Hanya saja masih sering kita menjumpai busana Muslimah yang tidak memenuhi standar seperti yang dikehendaki syari?at. Busana-busana itu masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyah. Adapun yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana wanita kita pada umumnya, yang mayoritas beragama Islam ini, nyaris tak kita jumpai mode pakaian umum tersebut yang tidak mengekspose aurat. Na?udzubillahi min dzalik.
Marilah kita takut pada ancaman akhirat dalam masalah ini. Tentu kita tidak ingin ada dari keluarga kita yang disiksa di neraka. Ingatlah, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: ?Dua golongan ahli Neraka yang aku belum melihat mereka (di masaku ini) yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataannya) telanjang (karena mengekspose aurat), jalannya berlenggak-lenggok (penampilan menggoda), kepala mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak akan masuk surga bahkan tak mendapatkan baunya, padahal baunya surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh?. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah).
Aborsi.
Saat ini tiap hari ada 100 remaja yang melakukan aborsi karena kehamilan di luar nikah. Jika dihitung per tahun, 36 ribu janin dibunuh oleh remaja dari rahimnya. Ini menunjukkan pergaulan seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Survei Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia menemukan jumlah kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya mencapai 2,3 juta dan 30% di antaranya dilakukan oleh remaja. Menurut National Abortion Federation, sebanyak 4 dari 5 wanita di Amerika telah melakukan hubungan seks sebelum usia 20 tahun, dan sebanyak 70 persennya adalah remaja. Karena mental yang belum siap, mereka pun melakukan aborsi.
Kecanduan Game.
Di negara barat, permainan game sudah mulai dibatasi karena terlalu sering bermain game akan membahayakan fisik dan psikologisnya. Seperti dikutip dari Psychiatric Time, anak-anak yang banyak bermain game akan menjadi anak yang mudah marah, agrasif dan cenderung radikal. Seorang anak boleh saja bermain game, asalkan waktunya dibatasi dan hal yang terpenting adalah pemilihan game yang tepat untuk anak-anak.
Perubahan ideologi.
Masa remaja sering dikaitkan dengan masa mencari jati diri. Akibatnya mereka mudah dimasuki ideologi-ideologi dari luar dan jika ideologi itu terus dipupuk akan menyebabkan sifat idealis di kemudian hari. Sifat idealis yang terus berkembang bisa menyebabkan perbedaan pandangan dengan keluarga dan akhirnya remaja memilih melepas keluarga dan melanjutkan ideologinya. Seperti contoh baru-baru ini, tersangka teroris Hotel Marriot dan Ritz Carlton Juli 2009 adalah remaja lulusan SMA yang mau melakukan aksi tersebut karena telah didoktrin jalan tersebut adalah jihad. Remaja gampang disusupi hal-hal negatif di atas karena jiwanya masih labil.
Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak lalu kemudian kedua orangtuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus.
Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca jika dibiasakan dengan kebaikan dan diajari hal itu maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang yang baik, bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk serta ditelantarkan bagaikan binatang, maka akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur.
Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, "Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya." Maka Allah Subhanahu wa Ta?ala mengingatkan kita dengan firmanNya, "Hai orang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS At Tahrim: 6). Berkata Amirul Mukminin Ali Radiyallahu `anhu, "Ajarilah diri kalian dan keluarga kalian kebaikan dan bimbinglah mereka".
Rasulullah Shalallahu`alaihi wassalam bersabda,
"Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan, seorang imam adalah pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan akan diminta pertanggungjawabannya, seorang wanita pemimpin dalam rumah suaminya dan ia bertanggungjawab dan seorang budak adalah pemimpin dalam hal harta tuannya dan ia bertanggungjawab. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabannya." (HR Bukhori dan Muslim dari sahabat Abdullah ibnu Umar Radiyallahu `anhu).
Keluarga, terlebih khusus kedua orangtua dan siapa saja yang menduduki kedudukan mereka adalah unsur-unsur yang paling berpengaruh penting dalam membangun sebuah lingkungan yang mempengaruhi kepribadian sang anak dan menanamkan tekad yang kuat dalam hatinya sejak usia dini. Seperti Zubair bin Awam misalnya. Ia adalah salah seorang dari pasukan berkudanya Rasulullah SAW yang dinyatakan oleh Umar ibnul Khattab, ?Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.? Ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh di bawah binaan ibunya Shofiyah binti Abdul Mutholib, bibinya Rasulullah dan saudara perempuannya Hamzah.
Ali bin Abi Tholib sejak kecil menemani Rasulullah bahkan dipilih menjadi menantunya. Ia tumbuh sebagai seorang pemuda sosok teladan bagi para pemuda seusianya di bawah didikan ibunya Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya Khodijah binti Khuwailid. Begitu pula dengan Abdullah bin Ja?far, bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya, di bawah bimbingan ibunya Asma binti Umais.
Orangtua mana yang tidak gembira jika anaknya tumbuh seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pada usianya yang masih kecil ia menangis, kemudian ibunya bertanya, ?Apa yang membuatmu menangis?? Ia menjawab, ?Aku ingat mati.? ? waktu itu ia telah menghafal Al Qur?an ? ibunya pun menangis mendengar penuturannya. Berkat didikan dan penjagaan ibunya yang sholihah Sufyan Ats Tsauri menjadi ulama besar, amirul mukminin dalam hal hadits. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, ?Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.? Subhanallah! Anak-anak kita rindu akan ucapan dan kasih sayang seorang ibu yang seperti ini, seorang ibu yang pandangannya jauh ke depan. Seorang ibu yang super arif dan bijaksaana.
Beberapa langkah dasar dalam mendidik anak yang disarikan dari Al Kitab dan Sunnah.
Pertama: mengajarkan tauhid kepada anak, mengesakan Allah dalam hal beribadah kepadaNya, menjauhkan mereka dari perbuatan syirik seperti ramalan lewat televisi, mengundi nasib lewat hp, dsb serta menjadikan mereka lebih mencintai Allah daripada selainNya, tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah. Ini pendidikan yang paling urgen di atas hal-hal penting lainnya.
Kedua: mengajari mereka sholat dan mencintai masjid sehingga membiasakan mereka untuk shalat berjama?ah dan memperdalam agama. Lingkungan masjid sangat baik untuk melatih mental dan pergaulan bagi anak-anak kita
Ketiga: mengajari mereka agar pandai bersyukur kepada Allah, kepada kedua orangtua, dan kepada orang lain. Orang yang bersyukur adalah orang yang tahu berterimakasih atas segala pemberian dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah SWT.
Keempat: mendidik mereka agar taat kepada kedua orangtua dalam hal yang bukan maksiat, setelah ketaatan kepada Allah dan rosulNya yang mutlak. Orang tua bukan hanya bisa memerintah agar anak-anak mentaati tetapi juga harus menjadi contoh teladan dan panutan yang baik sebelum memerintahkan sesuatu kebaikan kepada anak.
Kelima: menumbuhkan pada diri mereka sikap muroqobah atau merasa selalu diawasi Allah. Tidak meremehkan kemaksiatan sekecil apapun dan tidak merendahkan kebaikan walau sedikit.
Keenam: mengawasi pergaulan dan orang-orang yang menjadi teman anak-anak kita serta mengarahkan mereka bagaimana memilih teman dengan cara yang baik. Seringkali pengaruh teman jauh lebih besar dibandingkan nasihat-nasihat guru atau orang tua.
Ketujuh: mengarahkan mereka akan pentingnya ilmu Al Kitab dan Sunnah. Ajarkan membaca Al Quran semenjak kecil dan ajak mereka jika para orang tua mengaji di masjid.
Kedelapan: menanamkan pada jiwa mereka sikap tawadlu, rendah hati, dan rujulah serta syaja?ah (keberanian membela kebenaran). Buat anak-anak kita bangga jika mampu berbuat baik dan berani dalam membela kebenaran.
*) Dr H.M Fachrizal Achmad adalah praktisi kesehatan dan tulisan ini merupakan ringkasan dari khutbahnya pada Idul Fitri 1432 H di Masjid Al Istiqomah, Jalan Percetakan Negara I, Jakarta Pusat.
(T.A008/Z002) Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com
Komplek Istana Kepresidenan akhir-akhir ini nampak ramai. Para menteri sering datang ke Istana untuk berbagai ...
Sudi Di Mata PresidenSalah satu orang terdekat Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono setelah Ibu Negara Ani Yudhoyono adalah Sudi Silalahi.
Pidato Presiden Saat Peringatan Hari Lahir Pancasila Berikut adalah pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di ...
Ciptakan kerja Part time di rumahkisah sukses clickbank
Read More ...

Kamis, 01 September 2011

Kedekatan Antara ISLAM dan KRISTEN

Posted on 29 August 2011.

Kedekatan Antara ISLAM dan KRISTEN

Kristen

Pada mulanya agama Islam adalah agama orang Arab. Muhammad (± 570-632: hijrah 622) adalah orang Arab. warga salah satu suku Arab, yang tidak lagi menerima agama suku Arab. la telah berkenalan dengan agama-agama monoteis, Yahudi dan Kristen, dan menurut kesaksian Al Quran ia terkesan khususnya oleh agama Kristen. Mulai tahun 610 ia menyerukan kepada orang-orang Arab agar mereka membuang berhala dan percaya kepada Tuhan yang Esa, Allah. Dengan demikian muncullah agama monoteis yang lain lagi, yang disebut agama Islam. Dengan demikian diberikannya pegangan baru kepada suku-suku Arab, sekaligus mempersatukan suku-suku ini. Adalah fakta sejarah bahwa munculnya agama Islam tidak terlepas dari kehadiran agama Kristen (dan Yahudi) di Jazirah Arab dan di wilayah di sebelah utara dan barat. Sejak permulaannya, agama Islam sangat dekat dengan agama Kristen.

Agama-agama monoteis yang mengesankan Muhammad dan orang Arab lainnya adalah agama Yahudi dan agama Kristen. Di kota-kota Arabia Barat, seperti Mekkah dan Madinah, tinggal banyak orang Yahudi dan juga orang-orang Kristen.’ Juga di pantai Selatan (Yaman, Oman) ada kelompok orang Kristen, yang jauh lebih besar, di samping sejumlah besar orang Yahudi. Orang-orang Kristen di sana terdiri antara lain dari para pendatang dari Etiopia (Abesinia). Pada tahun 616 sekelompok pengikut Muhammad mengungsi ke Ethiopia karena penghambatan di Mekkah dan disambut dengan baik di situ. Maka tidak mengherankan kalau dalam Al Quran terdapat beberapa istilah keagamaan yang berasal dari bahasa Etiopia (antara lain “mimbar”).

Di sebelah utara, beberapa suku Arab asli telah masuk Kristen, misalnya Bani Ghasan. Di daerah itu juga terdapat banyak biara dan orang-orang pertapa. yang sangat dihormati orang. Banyak orang Arab, termasuk Muhammad sendiri, mengadakan perjalanan ke Syria dan dengan demikian berkenalan dengan agama Kristen.

Arabia memang berbatasan dengan wilayah yang disebut “Syria”, yang dikuasai oleh kekaisaran Romawi Timur, dan dengan kerajaan Persia, yang meliputi wilayah Iran dan Irak sekarang. Pada zaman itu, apa yang disebut “Syria” mencakup tidak hanya wilayah negara Syria yang sekarang. tetapi juga wilayah Libanon, Israel, Yordania, Turki Tenggara, sebagian Irak dan padang pasir Arabia Utara. Ibu kotanya ialah Antiokhia; kota-kota lain yang penting ialah Damsyik dan Edessa (sekarang Urfa, di Turki Selatan), yang merupakan pusat kebudayaan termasuk kebudayaan Kristen. Daerah Syria ini adalah daerah Kristen. Kita tahu bahwa Muhammad sendiri juga pergi ke Syria untuk berdagang dan di sana berkenalan dengan agama Kristen.

Di sini bukan tempat untuk membicarakan apa yang persis diketahui oleh Muhammad mengenai agama dan teologi Kristen. Itu merupakan pokok Islamologi. Yang penting di sini, agama Kristen yang diketahui Muhammad adalah agama Kristen sebagaimana terdapat di Syria. Orang-orang Kristen yang dijumpainya adalah orang Syria, anggota gereja-gereja yang terdapat di sana.

Selain itu, Syria, dengan Persia dan Mesir, merupakan daerah-daerah pertama yang diserbu oleh orang Arab ketika mereka mulai menaklukkan dunia di luar Jazirah Arab. Oleh sebab itu, sebaiknya kita mempelajari sedikit gereja-gereja di sana, mulai dengan Syria.

Tadi telah dikatakan bahwa Syria merupakan sebuah provinsi kekaisaran Romawi Timur, dengan ibukota Konstantinopel atau Byzantium, sehingga juga disebut kekaisaran Byzantin. Hal itu tidak berarti bahwa agama Kristen di Syria sama saja dengan agama Kristen Ortodoks di Konstantinopel. Sejarah Kekristenan di Syria sangat rumit, sama seperti sejarah politik daerah itu. Demi pengertian yang tepat mengenai sejarah politik Syria, perlu diketahui bahwa daerah itu termasuk kekaisaran Romawi.

Selain itu Syria merupakan juga daerah perbatasan antara kekaisaran Byzantium dan kerajaan Persia, sehingga menjadi daerah rebutan antara kedua negara itu. Keadaan ini khususnya berlaku tentang bagian timur provinsi Syria. Itulah sebabnya sejarah gereja Syria berhubungan tidak hanya dengan Konstantinopel, tetapi juga dengan Persia.

Status Syria sebagai daerah taklukan juga sangat mempengaruhi sejarah gereja di sana. Kebudayaan kekaisaran Romawi Timur adalah kebudayaan Yunani (Helenisme), yang kemudian dikristenkan. Gereja Ortodoks Timur, yang mempunyai pusat rohani di Konstantinopel, dengan pusat-pusat lainnya di Aleksandria, Antiokhia dan Yerusalem, adalah gereja yang Helenis, yang berbahasa Yunani. Akan tetapi, di Syria kebudayaan dan agama Kristen Helenis ini merupakan barang impor, yang hanya mempengaruhi lapisan atas masyarakat yang berbahasa Yunani, yaitu terutama orang Yunani yang datang ke Syria sebagai transmigran atau pegawai kekaisaran. Gereja Ortodoks adalah gereja elit, gereja penjajah, yang kedudukannya dapat dibandingkan dengan kedudukan Gereja Protestan di Indonesia pada zaman Belanda. Oleh sebab itu orang Kristen Ortodoks disebut “orang-orang Melkit” (dari kata bahasa Syria malka, bandingkan bahasa Ibrani melek, yang berarti raja, jadi “orang-orang kaisar”), yang berkiblat pada Konstantinopel, kota kekaisaran.

Selain orang-orang Helenis yang berbahasa Yunani, ada bangsa-bangsa asli, yaitu bangsa-bangsa Semit. Mereka mempunyai bahasa-bahasa tersendiri, yang termasuk rumpun bahasa yang sama seperti bahasa Ibrani dan Arab. Bahasa utama di Syria ialah bahasa Syria, yang sebenarnya merupakan bahasa kota Edessa, pusat kebudayaan (istilah teknis: West Aramaic), tetapi kemudian menjadi wahana ilmu pengetahuan dan kesusasteraan. Bangsa-bangsa asli tersebut juga masuk Kristen, tetapi kekristenan mereka mempunyai corak tersendiri. Secara teologis mereka ortodoks. Akan tetapi, mereka lebih menekankan askese (pertapaan) sebagai cara hidup Kristen yang sesungguhnya dibandingkan kaum Kristen Yunani.

Pertikaian tentang kristologi sangat mempengaruhi daerah Syria. Dalam abad ke-4 timbullah kristologi aliran Antiokhia, yang menegaskan jarak antara tabiat ilahi Kristus dan tabiat manusiawi-Nya. Nestorius (f 385- +451, patriarkh Konstantinopel 428-431) mengembangkan kristologi itu lebih jauh. Konsili Chalcedon (451) menolak ajaran Nestorius, yang terlalu memisahkan kedua tabiat Kristus, maupun ajaran Cyrillus, yang tidak cukup membedakan kedua tabiat sehingga kelihatan satu (monofisitisme). Di Syria timbul perlawanan sengit terhadap keputusan Chalcedon. Banyak biarawan serta petapa dan juga rakyat asli menentang kristologi orang-orang Yunani dengan latar belakang filsafatnya karena mereka menganggapnya sebagai tindakan membagi-bagikan, bahkan menyobek Sang Penebus menjadi dua tabiat. Mereka adalah monofisit (lebih tepat disebut diplofisit, penganut paham bahwa Kristus mempunyai tabiat rangkap, manusiawi-ilahi). Hal ini menyebabkan pertikaian terus-menerus, sebab kaum monofisit Syria didukung oleh uskup-uskup yang menentang Konstantinopel. Pertikaian ini mempunyai dimensi politik yang cukup mencolok.

Sikap kaisar-kaisar tidak selalu sama. Ada yang mencoba membujuk kaum monofisit dengan pernyataan-pernyataan dogmatis yang memperhitungkan keberatan-keberatan mereka. Ada juga yang menolak monofisitisme dengan tegas dan menghambat para penganutnya. Situasi ini sangat mempengaruhi gereja monofisit di Syria. Gereja ini terpaksa menjadi gereja padang gurun, gereja yang hidup secara tersembunyi. Di pihak lain, gereja inilah yang didukung oleh rakyat. Pada abad ke-6 situasi sedikit membaik. Pada waktu itu, berkat dukungan istri kaisar Justinianus, Theodora, kaum monofisit secara faktis dipisahkan dari gereja Konstantinopel (gereja Melkit) dan diberi uskup tersendiri, yaitu Yakub Baradaios. Sejak zaman itu mereka disebut “orang Yakobit”. Gereja Yakobit ada sampai sekarang, dengan nama Gereja Ortodoks Syria, meskipun jumlah anggotanya sangat berkurang. Gereja monofisit terdapat juga di Mesir (Gereja Koptik, dari kata Arab kibt, yang berasal dari kata Yunani aiguptioi, orang-orang Mesir: nama ini diberikan oleh orang Arab kepada gereja nasional di Mesir), di Etiopia dan di Armenia, yang sejak dahulu berhubungan erat dengan gereja di Syria.’

Walaupun Gereja Yakobit didukung oleh penduduk-penduduk asli, gereja itu tidak menjadi gereja nasional, sebab tetap ada kelompok orang Syria asli yang berpegang pada keputusan-keputusan Chalcedon (Melkit).2 Selain itu ada pengikut-pengikut Nestorius, yang juga menolak Chalcedon. Mereka ini terutama terdapat di kota Edessa, tempat Akademi Teologi gereja Syria. Pada mulanya, aliran “Nestorian” ini memang merupakan perkara kaum teolog dan tidak berakar dalam kesalehan rakyat, seperti halnya ajaran monofisit. Beberapa waktu sesudah Konsili Chalcedon, pengikut-pengikut Nestorius diusir dari Edessa, sehingga mereka mencari per-lindungan di Persia, yang berbatasan dengan kekaisaran Romawi. Akademi Teologi di Nisibis, yang telah ditutup setelah kota ini diduduki oleh Persia (363) dan dipindahkan ke Edessa, dibuka kembali dan menjadi pusat teologi Nestorian.

Kisah perkembangan Nestorianisme menjadi ajaran resmi gereja di kerajaan Persia berkaitan dengan sejarah hubungan politis dan militer antara kerajaan itu dengan kekaisaran Romawi. Pada tahun 226, kerajaan Persia, yang selama beberapa abad termasuk wilayah negara Partia, bangkit kembali di bawah pemerintahan kaum raja Sasanid. Kerajaan baru ini menerima agama Zoroaster sebagai agama negara.’ Raja-raja Sasanid menganggap diri sebagai ahli waris kerajaan Persia Kuno, yang telah menguasai seluruh Asia Barat, termasuk juga Asia Kecil dan Mesir. Akibatnya, se-sudah tahun 226 orang-orang Persia melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap kekaisaran Romawi. Mereka berhasil merebut daerah Syria Timur, yang penduduknya beragama Kristen. Dalam abad ke-4 orang-orang Kristen ini mengalami penganiayaan berat, karena mereka dicurigai se-bagai kaki tangan musuh, yaitu kaum Romawi yang beragama Kristen itu. Akhirnya, untuk menghindari kecurigaan itu, orang Kristen di negara Persia menerima organisasi tersendiri. Mereka dikepalai seorang patriarkh tersendiri, yang memakai gelar katholikos dan yang berkedudukan di Seleukia-Ktesifon, ibukota Persia (410).

Pada tahun 424 diputuskan untuk memisahkan gereja Persia dari persekutuan gereja Konstantinopel, sehingga Gereja Persia atau Gereja Syria Timur mulai berdiri sendiri. Pada tahun 484 dan lagi pada tahun 485 dan 486 sinode gereja ini memutuskan untuk menerima secara resmi ajaran Nestorian, yang dianut oleh banyak anggota, sehingga gereja Persia menjadi Gereja Nestorian. Perkembangan ini dimungkinkan juga oleh dukungan pemerintah Persia terhadap kaum Nestorian, yang berdasarkan pertimbangan politik, yaitu bahwa ajaran yang ditolak di Byzantium sebaiknya dimajukan di Persia. Di kemudian hari gereja ini dapat mempertahankan diri di bawah kekuasaan Arab dan menjadi pusat pekabaran Injil ke Asia Timur, sampai ke Tiongkok (mungkin juga ke Indonesia))

Jadi, kalau kita bertanya agama Kristen macam apa yang dikenal Muhammad dan yang dijumpai oleh Islam pada zaman permulaan, kita sebenarnya tidak dapat memberi jawaban tunggal. Kekristenan Syria terpecah karena faktor-faktor etnis, sosial dan teologis. Masyarakat Syria pada umumnya terdiri atas penjajah, yaitu orang-orang Yunani, yang berkiblat pada Byzantium, dan yang dijajah, yaitu orang-orang pribumi. Gereja pada khususnya terbagi, karena terdiri atas golongan yang menerima keputusan konsili Chalcedon dan golongan yang menolaknya, atas kelompok monofisit, diofisit (“Ortodoks”) dan Nestorian. Jelas bahwa keadaan ini menjadikan Kekristenan di Syria secara keseluruhan lemah dan terpecah.

Hal itu tampak pada waktu Syria dan Persia diduduki oleh orang-orang Arab. Golongan Melkit kuat secara politik dan dari segi kebudayaan, namun lemah karena tidak berakar dalam masyarakat Syria. Kuasa politik Byzantium terancam oleh Persia dan kemudian dengan mudah dihancurkan oleh orang Arab. Pada waktu tentara Arab masuk, banyak orang Melkit mengungsi ke wilayah Byzantium.

Golongan Yakobit kuat karena dukungan masyarakat, tetapi sekaligus lemah karena rakyat anggotanya selalu dikuasai oleh Byzantium dan kemudian oleh orang Arab. Di bawah Byzantium golongan ini ditindas dan sewaktu-waktu dianiaya. Maklumlah kaum Yakobit menyambut orang Arab sebagai pembebas dari tirani Byzantium dan Gereja Ortodoks Yunani yang menindas mereka sebagai penganut ajaran sesat. Karena banyak orang Kristen Syria asli telah menetap di Arabia Barat Laut (beberapa suku Arab, misalnya Bani Ghasan, telah masuk Kristen) dan karena banyak biara Syria dibangun di padang pasir Arabia Utara, barangkali bentuk agama Kristen inilah yang dikenal Muhammad.

Golongan Nestorian mungkin yang paling kuat. Orang-orang Nestorian berpendidikan dan berkebudayaan tinggi. Organisasi mereka teratur. Etika mereka ketat. Juga dari segi ekonomis, sebagai pedagang-pedagang, mereka kuat. Kekuatan ini dapat dilihat dari usaha-usaha pekabaran Injil yang mulai abad ke-6 mereka lakukan sampai ke ujung-ujung Asia dan yang memuncak pada zaman pemerintahan Arab.

Sejarah Perjumpaan Gereja Dan Islam Oleh Van Den End Th. Dr.

Foto/ Gambar
voa-islam

Kegemukan (Obesitas)
Kegemukan atau obesitas sangat mengganggu penampilan. Lemak tubuh yang berlebihan (melebihi berat badan normal) cenderung mengarah pada masalah kesehaan yang serius. Banyak penyakit yang timbul pada s...MENGENAL ORGAN TUMBUHAN
Sistem perakaran tumbuhan ada dua macam, yaitu sistem akar serabut dan sistem akar tunggang. Pada akar muda, terdapat rambut akar yang berumur relatif pendek, berfungsi memperluas bidang penyerapan ai...Kekuatan Mimpi Individual
Salah satu contohnya adalah mimpi berikut ini. Seorang pemuda bermimpi ia sedang mencari-cari payungnya karena hujan turun dengan deras. Paginya, pada saat ia terjaga, benar-benar sedang turun hujan, ...Dasar-dasar kesehatan seksual
Kesehatan seksual perempuan merupakan aspek penting dari kesehatan perempuan, apakah Anda sedang mencoba untuk mencegah kehamilan dan infeksi seksual menular atau Anda khawatir tentang dorongan seks r...JENIS KELAMIN ANAK BISA DIRENCANAKAN
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam merencanakan jenis kelamin anak. Prinsip tersebut didasarkan pada karakteristik sifat kromosom pada sperma yang membuahi ovum. ...
Artikel Yang Berhubungan Download Disini
Read More ...

Kamis, 18 Agustus 2011

MAKAN DAN MINUM : ADAB DALAM ISLAM

Posted on 15 August 2011.

MAKAN DAN MINUM : ADAB DALAM ISLAM

ADAB SAAT MAKAN DAN MINUM

Dalam sebuah hadis diriwayatkan, bahwa ketika Rasulullah saw melihat salah seorang cucunya mengambil makanan dengan tangan kirinya, beliau memberikan nasihat, “Makanlah dengan menyebut nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang paling dekat darimu.” (HR Bukhari Muslim).

Ajaran Islam adalah ajaran yang mulia dan sempurna. Tidak hanya urusan bernegara dan berpolitik yang norma dan akhlaknya telah ditetapkan oleh Islam, tetapi juga soal mengonsumsi makanan dan minuman. Ini membuktikan, bahwa kualitas spiritual seorang Muslim tidak hanya dinilai dari semangatnya dalam memperjuangkan politik yang bersih dan beradab, tetapi juga dinilai dari kesempurnaan akhlaknya dalam mengonsumsi makanan dan minuman.

Paling tidak, ada tiga poin penting berkenaan dengan akhlak mengonsumsi makanan dan minuman.

Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah ketika hendak memulai makan dan minum. Ini mengandung pengertian, bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia sesungguhnya adalah karunia Allah yang harus disyukuri. Ketika nama Allah disebut oleh orang yang hendak makan dan minum, berarti ia mengharap berkah dari makanan dan minuman yang akan dikonsumsi.

Kedua, menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum. Dalam Islam, kanan adalah simbol kebajikan yang mengandung nilai terpuji. Karena itu, Rasulullah saw senantiasa membiasakan yang kanan (al-tayainun) dalam setiap aktivitas kesehariannya, baik yang berhubungan dengan ibadah maupun akhlak. Secara kontekstual, pembiasaan tangan kanan dalam makan dan minum ini dapat dimaknai pula sebagai perintah untuk selalu mendapatkan makanan dan minuman dengan cara yang baik dan terpuii.

Makanan dan minuman harus mengandung kehalalan sempurna. Rasulullah saw bersabda, “Daging apa saja dalam tubuh manusia yang tumbuh dari makanan yang tidak halal, maka neraka lebih pantas baginya.”

Ketiga, mengutamakan makanan atau minuman yang paling dekat. Adalah sangat indah dan santun ketika seorang Muslim lebih mengutamakan makanan yang paling mudah diraihnya daripada yang jauh dan sulit diraihnya walaupun lebih lezat dan menarik. Akhlak ini sesungguhnya mengandung esensi, bahwa setiap Muslim dilarang bersikap tamak dan serakah sehingga selalu mengharap sesuatu yang tidak dimilikinya.

Setiap Muslim diperintahkan untuk selalu menghiasi dirinya dengan sifat qana’ah, yaitu menerima dan merasa cukup sekaligus mensyukuri apa yang dimilikinya sebagai nikmat dari Allah. Rasulullah saw bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan melimpahnya harta dan Benda, melainkan adalah kekayaan jiwa.” (HR Abu Ya’la). ( Muhammad Irfan Helmy )

Seratus cerita tentang akhlak Oleh Penerbit Republika

Foto/Gambar
pastijasin.blogspot

Larangan Bertato, Mencabut Bulu Wajah dan Pangur Gigi
Al-Falj (pangur gigi) yaitu menjauhkan jarak antara gigi atas dengan gigi bawah. Biasanya dilakukan oleh orang tua yang usianya sudah lanjut, dilakukan untuk bisa tetap awet muda serta memperindah gig...DUA PERISTIWA PENGACAUAN TERHADAP NABI MUHAMMAD SAW.
setelah Nabi saw. menyelesaikan urusan harta rampasan perang sebagaimana tersebut dalam pembahasan terdahulu, ketika itu ada seorang laki-laki dari golongan munafikin yang berkata kurang baik terhadap...PERINGATAN NABI MUHAMMAD SAW KEPADA KAUM ANSHAR
Setelah perkataan-perkataan yang demikian itu didengar oleh Sa'ad bin Ubadah, kepala golongan Anshar, olehnya diperhatikan benar-benar. Setelah itu, ia berpendapat bahwa desas-desus atau perasaan-pera...ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG LENGKAP DAN UNIVERSAL
Manusia adalah khalifah di muka bumi. Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah kepada sang khalifah agar dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama....Kamus Tapsir Mimpi ( Lanjutan selesai )
56. Perkawinan: melambangkan bersatunya dua pihak, pendapat, dan prinsip dalam suatu kesepakatan.57. Perkosaan: secara harfiah berisi pertunjuk agar menghindari orang-orang yang gemar memaksakan k...
Artikel Yang Berhubungan Download Disini
Read More ...
Diberdayakan oleh Blogger.